Menari nari tanpa ada yang bisa menahan.
Dari kejauhan kulihat sosok dirinya sedang berjalan pelan,
basah terguyur hujan yang turun di sekitar ibukota.
Langkah kakinya begitu mantap, tak memperdulikan hiruk pikuk
keadaan sekitar.
Dibawanya sebuah tas lusuh yang di
bekap di dadanya, seolah tak ingin kehilangan, tak ingin orang lain merampas
itu darinya.
Hanya itu yang ia punya kini, harta
yang paling berharga untuk dirinya, harta yang mampu membuat ia bertahan
bertarung dengan kenyataan, sebuah harapan.
Tak jarang ia terjatuh karna kakinya
menghempas batu jalanan.
Tapi ia selalu bisa bangkit setelah
terjatuh, tak perduli betapa kotor dirinya terkena genangan, tak perduli betapa
sakitnya tersandung batu jalanan.
Yang ia pikirkan saat itu hanya
satu, mencapai tempat yang ingin dia tuju.
Waktupun terus berjalan,
mengantarkan sang mentari menuju ke peraduannya.
Hari pun berganti malam, menambah
hawa dingin yang menempa dirinya.
Bahkan selimut kerinduan yang
selama ini bisa menghangatkan dirinya pun seolah tak bisa menahan dinginnya
kenyataan.
Badanya mulai gemetar, tak mampu
menahan dingin yang perlahan mulai merasuk kedalam tulangnya.
Langkah kakinya mulai bertambah
pelan, seperti menyerah pada keadaan.
Kulihat bibirnya bergerak-gerak
tanpa henti, seolah sedang berbincang dengan kenangan.
Sayup terdengar suaranya pelan,
lirih, seperti tak ikhlas menghadapi pahitnya kehidupan.
“Aku hanya ingin bahagia”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar