Jumat, 24 Juni 2016

Bahagia


Sore itu hawa dingin begitu terasa, genangan pun seolah berpesta di sepanjang jalan.

Menari nari tanpa ada yang bisa menahan.

Dari kejauhan kulihat sosok dirinya sedang berjalan pelan, basah terguyur hujan yang turun di sekitar ibukota.

Langkah kakinya begitu mantap, tak memperdulikan hiruk pikuk keadaan sekitar.

Dibawanya sebuah tas lusuh yang di bekap di dadanya, seolah tak ingin kehilangan, tak ingin orang lain merampas itu darinya.

Hanya itu yang ia punya kini, harta yang paling berharga untuk dirinya, harta yang mampu membuat ia bertahan bertarung dengan kenyataan, sebuah harapan.

Tak jarang ia terjatuh karna kakinya menghempas batu jalanan.

Tapi ia selalu bisa bangkit setelah terjatuh, tak perduli betapa kotor dirinya terkena genangan, tak perduli betapa sakitnya tersandung batu jalanan.

Yang ia pikirkan saat itu hanya satu, mencapai tempat yang ingin dia tuju.

Waktupun terus berjalan, mengantarkan sang mentari menuju ke peraduannya.

Hari pun berganti malam, menambah hawa dingin yang menempa dirinya.

Bahkan selimut kerinduan yang selama ini bisa menghangatkan dirinya pun seolah tak bisa menahan dinginnya kenyataan.

Badanya mulai gemetar, tak mampu menahan dingin yang perlahan mulai merasuk kedalam tulangnya.

Langkah kakinya mulai bertambah pelan, seperti menyerah pada keadaan.

Kulihat bibirnya bergerak-gerak tanpa henti, seolah sedang berbincang dengan kenangan.

Sayup terdengar suaranya pelan, lirih, seperti tak ikhlas menghadapi pahitnya kehidupan.

“Aku hanya ingin bahagia”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar